8.27.2009

T-T

Saya dapet email dari angger yang isinya bikin saya deg2an. Bukan karena isinya kata2 romantis (yay! jijay..) tapi karena isinya tentang hubungan orang tua sama anaknya. Yah jujur aja saya mah bacanya pengen nangis..Haha..biarin ah...
saya share aja disini dah yess...dibaca dan dihayati (seperti kata angger heuheehue..)

Surat Indah dari Perhiasan Hati
Senin, 24 Agustus 2009 13:25 WIB
Jamil Azzaini
(kalau tdk salah seorang motivator yg sering mengisi acara di sebuah stasion radio swasta)
Bila Anda bertanya kepada saya, apa salah satu pengalaman
hidup paling berkesan yang saya rasakan? Saya akan segera menjawab
’saya bisa nyuapin makan siang anak saya di tepian Pantai Anyer’.
Mengapa berkesan?
Pertama, saya berhasil membuat anak saya
menghabiskan makannya, padahal selama ini ia sulit makan. Kedua, anak
saya makan sambil mandi di laut. Ketiga, saya harus berlari ke sana ke
mari mengejar anak saya selama satu jam lebih agar ia mau menghabiskan
makanannya. Keempat, baru kala itu saya diberi aplaus dalam urusan
menyuapi makan oleh dua anak pertama dan kedua saya.
Anak memang seperti perhiasan. Sungging senyum mereka tatkala kita lelah
mampu menghapuskan kepenatan. Teriakan, nyanyian, ocehan, gerakan dan
tingkah polah mereka juga membuat suasana rumah bertambah hidup dan
membangkitkan gairah hidup.
Anak-anak kita bak ’malaikat kecil’ yang ditugaskan membahagiakan dan menentramkan hidup kita. Semua itu bisa kita rasakan hingga anak kita masuk sekolah dasar.
Tapi selewat usia sekolah dasar kita segera merasakan bahwa pendidikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Padahal menurut penelitian, selama satu tahun anak-anak kita hanya menghabiskan 60 hari di sekolah.
Angka
60 hari diambil dari; rata-rata anak sekolah selama satu tahun 240 hari
dengan asumsi anak-anak menghabiskan 6 jam di sekolah setiap hari. Maka
dalam 240 hari jumlah jam yang dihabiskan di sekolah mencapai 1.440 jam
atau setara dengan 60 hari.
Selebihnya ia berada di luar sekolah.
Karena itu menciptakan kualitas pertemuan dengan anak di rumah,
menjadi hal utama dan terpenting. Rumah adalah tempat belajar, tempat seorang anak mencari jati diri, tempat anak berbagi, dan tempat anak mengharap cinta tulus.
Bagi
orangtua yang menyekolahkan anaknya ke boarding school mungkin bisa
mengambil pelajaran dari pengalaman saya. Anak pertama saya (Dhira)
sekolah di salah satu boarding school di Bogor, lewat seleksi ketat.
Dua pekan atau satu bulan sekali saya mengunjunginya ke sekolah.

Pernah saat untuk beberapa saat lamanya saya tak mengunjunginya, Dhira mengirimi saya sepucuk surat. Isinya begini;

“. Allow
Bapak apa kabar? Bapak masih sering pulang malam? Ati-ati lho pak ntar
sakit! Pak, Dhira kangen nich. Udah tiga minggu lho Bapak nggak
nengok. Tapi kalau bapak sibuk jangan dipaksain. Nanti kalau
dipaksain penggemar kecewa lho. Kalau bapak ceramah atau ngisi
training khan banyak yang seneng.
Lewat surat ini mbak Dhira juga
ingin berdoa buat Bapak ‘Ya Allah berilah kesehatan buat
Bapakku..Mudahkan lisannya ketika ia ceramah...Jadikanla h setiap kata
yang keluar dari mulut Bapakku mengandung makna dan menjadi pahala. Ya
Allah jangan Kau jadikan Bapakku seperti lilin yang mampu menerangi
sekitarnya namun kemudian lilin itu musnah’. Aku juga kangen diceramahi
Bapak.
‘Ya Allah jangan Kau jadikan aku seperti anaknya nabi Nuh yang tak mau mendengar seruan Ayahnya. Jadikanlah aku seperti Ismail
yang rela disembelih Bapaknya Ibrahim karena taqwanya kepada-Mu. Ya
Allah beri kesempatan kepadaku agar aku sering mendengar ceramah
Bapakku, Aku rindu senyumnya... aku rindu candanya...Ya Allah aku ingin
senyumku sesering mungkin dilihat orang tuaku. Ya Rabb akupun ingin
sesering mungkin memeluk adik-adikku’. Jangan marah ya Pak. I miss you
so much. Dagghhh…”
Saya pikir mengapa saya harus marah membaca
surat indah seperti itu? Yang ada justru rasa rindu. Saya ambil
fotonya, ”Anakku, Maafkan Bapak ya”. Dua pekan kemudian dia sudah mampu
menebarkan senyum manisnya secara langsung kepada saya, ibunya juga
adik-adiknya. (*)